Preeklamsia

3 min read

Penyebab Preeklamsia dan Cara Pencegahan

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang umumnya terjadi saat kehamilan memasuki usia 20 minggu, preeklamsia ditandai dengan keluhan hipertensi dan tingginya kadar protein pada urin atau Proteinuria. Hal ini menjadi tanda terjadinya kerusakan organ.

Seperti yang dijelaskan diatas, preeklamsia umumnya terjadi saat kehamilan Anda memasuki usia 20 minggu. Bila hal ini tidak segera ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan serius pada ibu dan bayi dalam kandungan. Dalam beberapa kasus, dokter menyarankan untuk melakukan operasi caesar–bila usia kehamilan sudah cukup matang– untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

Mengutip Webmd, preeklamsia sering ditemukan pada ibu hamil anak pertama, kehamilan dibawah usia 20 tahun, kehamilan pada usia 40 tahun keatas serta faktor lainnya seperti:

  • Memiliki riwayat atau faktor keturunan Hipertensi.
  • Memiliki keluarga yang pernah mengalami Preeklamsia
  • Memiliki riwayat obesitas
  • Mengandung bayi kembar
  • Memiliki riwayat penyakit diabetes, penyakit ginjal, lupus atau rematik.

Penyebab

Penyebab pasti preeklamsia masih belum diketahui secara pasti, namun para ahli percaya hal ini bermula dari plasenta –organ yang menutrisi janin selama kehamilan–. Di awal kehamilan, pembuluh darah baru terbentuk untuk menyuplai darah ke placenta secara efisien.

Pada wanita dengan preeklamsia, pembuluh darah ini tidak terbentuk secara sempurna atau tidak berfungsi dengan baik. Alih-alih pembuluh darah menyempirt dan mengirimkan sinyal yang berbeda sehingga membatasi jumlah darah yang dapat dikirimkan ke plasenta.

Penyebab tidak sempurnanya jaringan pembuluh darah ke plasenta dapat diakibatkan beberapa faktor seperti:

  • Sirkulasi darah ke rahim tidak lancar
  • Pembuluh darah pecah
  • Masalah dengan sistem imun ibu hamil
  • Faktor genetis

Selain itu, tekanan darah tinggi yang diderita ibu hamil juga turut berkontribusi sebagai penyebab komplikasi preeklamsia. Terdapat tiga jenis hipertensi yang dapat menyebabkan ibu hamil mengalami preeklamsia, yakni:

  • Hipertensi Gestasional, ibu hamil yang masalah hipertensi gestasional atau hipertensi yang terjadi saat hamil dapat menyebabkan komplikasi preeklamsia.
  • Hipertensi Kronis, ibu hamil yang diketahui menderita tekanan darah tinggi sebelum kehamilan dapat mengalami komplikasi kehamilan ini sebelum atau sesudah usia kehamilan 20 minggu. Namun, karena hipertensi yang dimiliki sebelum kehamilan gejala yang ditimbulkan umumnya akan menyulitkan dokter untuk menentukan apakah hal tersebut karena preeklamsia atau bukan.

Gejala

Selain tekanan darah tinggi, proteinuria dan pembengkakan. Gejala Preeklamsia diantaranya adalah:

  • Berat badan meningkat drastis disebab oleh peningkatan jumlah cairan tubuh.
  • Nyeri pada bagian perut
  • Sakit kepala hebat
  • Reflek tubuh terganggu
  • Penurunan jumlah urin yang keluar ketika BAK
  • Sering pusing
  • Mual dan Muntah
  • Penurunan fungsi mata.

Anda juga mengidap preeklamsia tanpa munculnya gejala-gejala diatas. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk rutin memeriksakan tekanan darah dan urin Anda selama kehamilan.

Komplikasi

Semakin parah status preeklamsia di awal-awal kehamilan semakin tinggi juga risiko keselamatan ibu dan janin dalam kandungan. Hal ini disebakan karena preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi kesehatan seperti:

  • Gangguan Pertumbuhan Janin. Preeklamsia dapat menghambat sirkulasi darah ke plasenta, jika hal ini terjadi, janin Anda akan mengalami kekurangan suplai darah, oksigen dan nutrisi penting untuk pertumbuhan. Preeklamsia dapat menyebabkan bayi Anda lahir dengan berat badan kurang atau bahkan lahir secara prematur.
  • Kelahiran Prematur. Jika dokter melihat kondisi ibu hamil dengan preeklamsia parah, umumnya dokter akan menyarankan untuk melakukan tindakan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Kelahiran prematur dapat menyebabkan masalah pernapasan dan masalah kesehatan lain pada bayi Anda.
  • Abrupsi Plasenta. Preeklamsia meningkatkan risiko abrupsi plasenta, sebuah kondisi dimana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Hal ini dapat menyebabkan pendarahan hebat, kondisi yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan.
  • Sindrom HELLP. Sindrom HELLP atau Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelet Count merupakan kondisi dimanan rusaknya sel darah merah, meningkatnya enzim di liver dan rendahnya trombosit pada tubuh Anda. Sindrom HELLP membahayakan keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan karena dapat menyebabkan kerusakan sistem organ tubuh Anda.
  • Eklamsia. Jika preeklamsia tidak ditangani segera, dapat menyebabkan ibu hamil mengalami eklamsia. Ditandainya gejala kejang-kejang ibu hamil, hal ini dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan. Sebagai catatan, seringkali eklamsia tidak menunjukan gejala sehingga pemeriksaaan rutin merupakan kunci untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda.
  • Kerusakan Organ. Preeklamsi dapat menyebabkan kerusakan organ liver, ginjal, paru-paru, jantung atau mata dan dapat menyebabkan stroke dan cedera otak. Jumlah kerusakan tergantung pada seberapa para preeklamsia yang diderita ibu hamil.
  • Penyakit Kardiovaskular. Mengidap preeklamsia dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke, risiko bahkan menjadi lebih tinggi jika Anda mengalaminya lebih dari sekali. Untuk meminimalisir risiko, jaga berat badan Anda setelah melahirkan dan terapkan gaya hidup sehat.

Pencegahan

Peneliti terus melakukan studi untuk menemukan cara mencegah preeklamsia, namun sejauh ini belum ditemukan formula strategis yang dapat digunakan. Konsumsi lebih sedikit garam, meningkatkan aktivitas fisik, membatasi asupan kalori, konsumsi suplemen minyak ikan tidak menurunkan risiko preeklamsia.

Beberapa penelitian menyebutkan kaitan antara kekurangan vitamin D dan peningkatan risiko preeklamsia. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan diantara kalangan peneliti yang tidak menemukan hal tersebut.

Namun, Mayo Clinic memberikan panduan untuk menurunkan risiko preeklamsia pada saat hamil, yakni dengan cara:

  • Aspirin Dosis Rendah. Jika Anda memiliki atau mengalami beberapa faktor penyebab preeklamsia seperti hamil bayi kembar, riwayat tekanan darah tinggi, memiliki keluhan penyakit ginjal dan diabetes atau pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya. Dokter Anda mungkin akan meresepkan aspirin dosis rendah setelah usia kehamilan memasuki 12 minggu.
  • Suplemen Kalsium. Konsumsi suplemen kalsium sebelum hamil maupun saat hamil dapat menurunkan risikok preeklamsia.

Sebagai catatan, jangan konsumsi obat-obatan, vitamin dan suplemen tanpa resep dokter.

Sebelum hamil, terutama jika Anda pernah mengalami preeklamsia sebelumnya merupakan hal yang bijak untuk menerapkan gaya hidup sehat, menurunkan berat badan dan kontrol gula darah.

Saat hamil, selalu periksa kehamilan secara rutin. Jika preeklamsia terdeteksi lebih dini, dokter akan menyarankan langkah-langkah pencegahan komplikasi sesuai dengan kondisi kehamilan Anda.

Demikian pembahasan mengenai Preeklamsia, semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda untuk menjaga kesehatan ibu dan janin dalam kandungan.

Artikel Terkait

Masalah Kehamilan Kehamilan merupakan kondisi spesial dalam hidup Anda, sudah pasti rasa antusias meliputi Anda beserta pasangan dalam menghitung hari dan mengikuti per...
Keguguran Keguguran adalah gugurnya janin sebelumnya kehamilan mencapai usia 20 minggu. Keguguran merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi momok b...
Gatal pada Ibu Hamil Mengapa ibu hamil sering mengalami gatal? gatal pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kehamilan yang sering terjadi. Lebih dari 20 persen ibu ha...
Air Ketuban Sedikit Air ketuban merupakan bagian dari sistem pendukung bayi dalam kandungan. Air ketuban melindungi bayi dan membantu proses pengembangan otot, anggota tu...
Kelelahan saat Hamil Kelelahan merupakan salah satu masalah kehamilan yang sering terjadi pada trimester pertama kehamilan. Belum ada yang menyimpulkan apa yang menjadi pe...